Deskripsi Umum

Konseling Perorangan (KP) merupakan layanan konseling yang diselenggarakan oleh seorang konselor terhadap seorang klien dalam rangka pengentasan masalah pribadi klien. Dalam suasana tatap muka dilaksanakan interaksi langsung antara klien dan Konselor, membahas berbagai hal tentang masalah yang dialami klien. Pembahasan tersebut bersifat mendalam menyentuh hal-hal penting tentang diri klien (bahkan sangat penting yang boleh jadi penyangkut rahasia pribadi klien); bersifat meluas meliputi berbagai sisi yang menyangkut permasalahan klien; namun juga bersifat spesifik menuju ke arah pengentasan masalah. Layanan KP adalah jantung hatinya pelayanan konseling secara menyeluruh.

Dalam layanan KP konselor memberikan ruang dan suasana yang memungkinkan klien membuka diri setransparan mungkin. Dalam suasana seperti itu, ibaratnya klien sedang berkaca. Melalui “kaca” itu klien memahami kondisi diri sendiri (dan lingkungannya) dan permasalahan yang dialami, kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, serta kemungkinan upaya untuk mengatasi masalahnya itu. Hasil “berkaca” itu mengarahkan dan menggerakkan klien untuk segera dan secermat mungkin melakukan tindakan pengentasan atas kekurangan dan kelemahan yang ada pada dirinya.

Menciptakan suasana “berkaca” dan membawa klien ke hadapan kaca sehingga klien memahami kondisi diri dan mengupayakan perbaikan bagi dirinya, sering kali tidak mudah. Klien boleh jadi ragu-ragu berdiri di hadapan kaca; tidak tahu apa dan bagian mana yang harus dihadapkan ke arah kaca; tidak tahu bagaimana cara membaca dan menafsirkan apa yang terlihat di dalam kaca; tidak tahu apa yang harus diperbuat seiring dengan pemahaman terhadap kondisi sebagaimana terlihat di dalam kaca itu. Hal yang ironis dapat berkembang, misalnya apabila klien salah tafsir dan tidak mau menerima apa yang dilihatnya di dalam kaca; peristiwa “buruk muka cermin dibelah” dapat menjadi kenyataan. Sebaliknya, adalah sangat menguntungkan, bagi klien (dan juga konselor), apabila klien dapat dengan mudah dan lancar menjalani proses “berkaca” itu dan menindaklanjutinya. Kemungkinan lain, yang merupakan tantangan bagi konselor dalam upaya layanannnya, adalah suasana ibarat “membawa kuda mandi ke sungai”. Betapa sulitnya menarik dan menuntun kuda masuk ke air. Sesudah sampai ke air pun, sang kuda tidak dapat mandi sendiri. Siapa yang harus memandikannya, supaya kuda itu segar dan bersih? Pastilah bukan kuda itu sendiri.

Ilustrasi di atas menggambarkan variasi suasana dan luasnya daerah operasional layanan KP. Mengembangkan suasana “berkaca” sampai “memandikan kuda” memerlukan keahlian tersendiri. Untuk itu konselor perlu melengkapi diri dengan berbagai pendekatan dan teknik konseling; dari pendekatan mono-dualektik sampai dengan pendekatan eklektik; dari teknik-teknik umum pengembangan proses konseling sampai dengan teknik-teknik khusus intervensi dan pengubahan tingkah laku klien. Pendekatan dan teknik-teknik tersebut, disenergikan dengan asas-asas konseling, akan membentuk operasional layanan KP oleh konselor professional.

Terkait dengan lengkapnya penerapan pendekatan dan teknik serta asas-asas yang dimaksudkan itu, sebagaimana disingggung di atas, layanan KP sering dianggap sebagai “jantung hatinya” pelayanan konseling. Apa artinya? Pertama, KP seringkali merupakan layanan esensial dan puncak (paling bermakna) dalam pengentasan masalah klien. Kedua, seorang ahli (dalam hal ini konselor) yang mampu dengan baik menerapkan secara sinergis berbagai pendekatan, teknik dan asas-asas konseling dalam layanan KP, diyakini akan mampu juga (dengan cara yang lebih mudah) menyelenggarakan jenis-jenis layanan lain dalam keseluruhan spektrum pelayanan konseling.