Ketika ditimpa kejadian buruk yang tak pernah diduga sebelumnya dan mengalami diri syok hebat, tak jarang pengalaman itu akan membekas menjadi sebuah trauma. Seseorang yang mengalami trauma berusaha untuk menghindari kejadian serupa untuk kedua kalinya. Mereka cenderung dilanda ketakutan berlebihan atau menjauhkan diri dari penyebab trauma.

    Kecepatan seseorang untuk melupakan masa lalunya yang kelam sangat bergantung pada seberapa dalam ia tersakiti. Jika pada saat itu orang tersebut benar-benar terpuruk atau dihadapkan dengan keadaan hidup dan mati, maka trauma bisa membekas seumur hidupnya (meski kadarnya bisa berkurang seiring berjalannya waktu). Namun, jika pengalaman pahit tersebut tak terlampau buruk hingga membuat hidup seseorang terpuruk, maka trauma yang seperti itu lebih mudah untuk dihilangkan.

    Selain bergantung pada kedalaman luka psikis, sulitnya seseorang untuk melupakan masa lalunya yang gelap juga dipengaruhi oleh lingkungan dan orang-orang sekitar, apalagi yang tidak mendukung. Entah cuek atau bahkan menyalahkan (seperti yang banyak dialami korban pemerkosaan, pelecehan seksual dan lain-lain). Selain itu, penderita pun tidak diberikan atau tidak memiliki akses untuk mendapatkan terapi sesi konsultasi yang tepat. Sehingga, bukannya trauma memudar, justru penderita makin merasa bersalah dan membenci dirinya. Belum lagi penderita juga mungkin saja termakan stigma yang beredar di masyarakat.

Tips untuk mengatasi trauma masa lalu

    Setiap orang tentunya memiliki pendekatan masing-masing untuk menyelesaikan masalahnya. Setiap pengobatan dan terapi pun dilakukan mulai dari berdasarkan usia, jenis kelamin, jenis trauma, dan kepribadian. Akan tetapi, ada beberapa cara umum yang perlu diketahui oleh Anda jika mengalami trauma.

1. Mengenali trauma

    Pertama-tama, kenali trauma Anda. Coba ingat-ingat kembali, mengapa kenangan tersebut bisa menyebabkan luka yang begitu membekas bagi kehidupan Anda.

2. Akui dan cobalah bersikap lebih terbuka

    Semakin Anda menghindar dan menyimpannya rapat-rapat, semakin parah dampak trauma yang dihasilkan. Cobalah untuk akui kesalahan, memaafkan diri sendiri, dan menumbuhkan kembali rasa percaya diri. Bercerita pada orang yang mengalami kejadian serupa akan dapat lebih menguatkan diri karena korban menjadi merasa tidak sendiri. Selain itu, mencurahkan isi pikiran dan perasaan juga dapat dilakukan dengan cara menulis jika korban tidak cukup nyaman untuk berbagi cerita kepada orang lain.

3. Kelilingi diri dengan orang-orang yang membuat Anda tenang

    Merasa cemas memang wajar, tetapi kalau terlalu sering, itu bisa berdampak buruk pada kondisi psikis penderita trauma. Jadi, kelilingilah diri dengan orang-orang yang dapat membuat Anda tenang.

4. Memaafkan

    Mungkin terkesan mudah akan tetapi, memaafkan adalah bagian yang cukup vital dalam mengatasi trauma. Memaafkan bukan berarti melupakan. Mulailah untuk memaafkan penyebab yang membuat pengalaman Anda begitu traumatis. Pengalaman masa lalu adalah sebuah bekal untuk masa depan Anda.

5. Fokus terhadap diri sendiri dan sekitar Anda

    Sayangi diri Anda dan orang sekitar Anda. Mulailah untuk mencari kegiatan yang produktif untuk Anda. Selain baik untuk kesehatan dan pengembangan diri, aktivitas tertentu bisa membuat Anda tidak begitu teringat pada trauma di masa lalu. Selain itu, kembalilah ke lingkungan yang lebih positif dan bersosialisasi dengan orang baru adalah hal yang cukup baik untuk mengembangkan diri sendiri.

6. Relaksasi

    Cara paling mudah, penderita dapat melakukan meditasi atau peregangan. Fokuskan pikiran dan perasaan pada hal yang positif dan menumbuhkan semangat. Bayangkan berbagai peristiwa atau hal yang pernah membuat diri bahagia. Kemudian, jika memiliki hobi dan mungkin dilakukan, lakukanlah hobi tersebut. Misalnya saja, hobi mendengarkan atau memainkan musik yang dapat membantu untuk membuat tubuh lebih relaks.

7. Mencari tenaga profesional atau ahlinya

    Apabila trauma ini sudah sangat mengganggu kehidupan Anda, cobalah untuk mencari tenaga profesional. Selain mengganggu, lingkungan yang tidak suportif pun bisa dijadikan alasan untuk mencari orang yang ahli di dalam bidang ini seperti konselor atau psikolog.

8. Berusaha menghadapi rasa takut

    Takut atau cemas karena peristiwa traumatis merupakan hal yang wajar. Namun, takut secara berlebihan terhadap sesuatu dapat menurunkan produktivitas seseorang. Secara bertahap, penderita harus menguatkan diri dalam menghadapi ketakutan yang dirasakan. Biarlah masa lalu menjadi masa lalu, fokuslah pada masa kini dan masa depan. Jangan sampai masa lalu terus mengendalikan kehidupan korban. Dan yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah sabar dan sholat. Allah Ta'ala berfirman, "Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS 2:45-46).


    Jika anda telah melakukan tips di atas untuk mengurangi trauma yang dialami tetapi belum memberikan hasil yang maksimal, anda bisa konsultasi atau konseling dengan secara offline atau online di UPT Pelayanan BK UNP lt.3 Rektorat Bagonjong pada hari kerja (Senin sd Jum'at). Insya Allah anda akan dilayani oleh konselor-konselor terpilih untuk permasalahan tersebut.